My Weblog: kutahya web tasarim umraniye elektrikci istanbul elektrikci uskudar elektrikci elektrikci sisli elektrikci beykoz elektrikci

  • Tentang Kami
  • Authors Posts by admin

    admin

    83 POSTS 0 COMMENTS

    0 334

    Acara Electainment on Campus-Rock The Vote Indonesia Pilgub Jawa Barat 2018: Pendidikan Politik untuk Meningkatkan Partisipasi Pemilih Muda Jawa Barat kerjasama antara KPU Provinsi Jawa Barat, Center of Election and Political Party (CEPP) Universitas Indonesia bersama Universitas Siliwangi Kota Tasikmalaya dilaksanakan pada tanggal 29 April 2018

    Rektor Universitas Siliwangi Prof. Dr. Rudi Priyadi, MS dalam sambutannya mengajak mahasiswa untuk senantiasa berperan aktif dalam pemilihan umum. Setelahnya, beliau pun membuka secara resmi acara Electainment of Campus-Rock The Vote Indonesia Pilgub Jawa Barat 2018 bersama empat narasumber lainnya dengan membunyikan angklung secara bersamaan.

    Perwakilan dari KPU Provinsi Jawa Barat, Heri Suherman (Sekretaris KPU Jawa Barat) dalam sambutannya mengatakan, money politics di Pilgub Jabar saat menjadi perhatian utama. Saat ini, Kapolri sudah membentuk Satgas untuk memberantas money politics. Pun KPU sudah membentuk agen sosialisasi yang tersebar di Kota dan Kabupaten. Menurut Heri, mahasiswa zaman now  dikenal dengan kesibukan bermedia sosial. Maka dari itu, beliau mengajak mahasiswa untuk menjadi garda terdepan dalam melawan asumsi bahwasannya mahasiswa zaman now tidak hanya sibuk dengan media sosial, melainkan juga berperan aktif dalam penegakan demokrasi.

    Sumber: fisip.unsil.ac.id

    0 251

    Sebanyak 174 peserta dari 130 Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon ditambah dengan segenap akademisi mengikuti kegiatan Electainment On Campus – RTVI di Gedung Auditorium Pasca Sarjana IAIN Syekh Nurjati Cirebon, Rabu (4/4).

    Kegiatan dalam rangka meningkatkan partisipasi pemilih muda pada Pilgub Jabar 2018 ini dihadiri oleh dua pemateri dari Fisip Universitas Indonesia yakni DR Abdul Azis, SR dan Nina Yuningsih dari KPU Jabar Bidang SDM dan Partisipasi Masyarakat atas kerjasama dengan Rock The Vote Indonesia dari fasilitator Universitas Indonesia.

    Kegiatan besutan Rock The Vote Indonesia yang dipanitiai oleh DR KH FARIHIN MPd ini, dibuka langsung oleh Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon, DR H Sumanta MAg dan kemudian dilanjutkan dengan acara diskusi panel yang diisi oleh KPU Jabar dan pembicara dari Universitas Indonesia.

    Dalam sambutannya, Rektor IAIN Syekh Nurjati Cirebon menyampaikan, bahwa pemuda atau mahasiswa harus memiliki komitmen tinggi dalam demokrasi, terutama dalam Pilgub Jabar mendatang.

    Rektor IAIN ini menjelaskan, sebagai khalifah, manusia bisa berbuat apa saja, karena memiliki hawa nafsu. Bahkan katanya, nafsu satu orang, bumi ini bisa dihancurkan, karena nafsu manusia itu selalu tak terhingga.

    DR H Sumanta MAg juga berharap, dengan kegiatan ini ada pencerahan bagi pemilih pemula, agar tidak golput. Sebab masa depan bangsa ini, masa depan Jawa Barat nasibnya sangat ditentukan oleh semangat pemuda atau mahasiswa dalam berdemokrasi. Karena nilai dan bentuknya sangat ditentukan oleh kita sekarang.

    “Pemuda atau mahasiswa akan menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Maka dengan ke aktifan kita, konstribusi kita dan potensi yang dimiliki, masa depan Jabar akan lebih cerah. Sebab masa depan itu ada di tangan kita, bukan di tangan mereka yang golput, mereka yang tidak aktif dan cuek terhadap keadaan yang terjadi,” paparnya.

    Kehidupan demokrasi, lanjutnya, tidak bisa dilepas dari kehidupan kita sehari hari. Demokrasi itu cermin atau sarana atau transmisi yang bisa memberikan kehidupan pada keadilan dan bisa mengantarkan pada nilai-nilai keadilan.

    “Maka tak kala kita ikut berdemokrasi, kita sudah menghantarkan pemimpin- pemimpin yang adil,” jelasnya, sambil berharap kegiatan ini agar disimak dan diikuti dengan baik agar bisa memberikan pencerahan.

    Usai dilaksanakannya diskusi panel, peserta Electaiment On Campus pun dibawa ke halaman gedung Pasca Sarjana untuk menjalankan praktek pemungutan suara di TPS dengan baik dan benar.

    Sumber: Koransidak.co.id

    0 295

    Ratusan mahasiswa/mahasiswi hadiri kegiatan pendidikan pemilih muda electainment on campus yang diselenggarakan oleh Universitas Wiralodra bekerjasama dengan KPU Jawa Barat dan Center for Election and Political Party (CEPP) FISIP UI, di Aula Nyi Endang Dharma Ayu Unwir, Indramayu, Jawa Barat, Selasa (3/4/2018).

    Dalam acara tersebut juga dihadiri Komisioner KPU Provinsi Jawa Barat, Ketua KPU Kabupaten Indramayu, Rektor Unwir, perwakilan CEPP FISIP UI, serta perwakilan Timses Cagub-Cawagub Jawa Barat di Kabupaten Indramayu.

    Ketua panitia, Dewi Nurmala Sari M.A menerangkan, acara tersebut merupakan gerakan pendidikan pemilih muda dibawah naungan CEPP FISIP UI yang berjejaring dengan 45 PTN/PTS se Indonesia.

    “Kegiatan Rock The Vote Indonesia (RTVI) ini bertujuan untuk belajar demokrasi, politik dan pemilu, dengan metode diskusi di ruang terbuka bersama dengan para tutor mahasiswa,” jelasnya.

    Ia menjelaskan, selain diskusi mengenai Politik, Pemilu, Demokrasi, Partai Politik, dan Partisipasi, para peserta yang hadir juga diajak melakukan simulasi memilih di TPS-TPS yang telah disediakan, bekerjasama dengan KPUD Kabupaten Indramayu.

    Komisioner KPU Provinsi Jawa Barat, Nina Yuningsih mengatakan, partisipasi bagi pemilih pemula atau pemilih muda ini penting, supaya tidak terjebak dalam pemikiran pragmatis, apalagi apatis.

    Dikatakannya, penyelenggaraan pesta demokrasi harus memberikan unsur edukasi bagi masyarakat.

    “Saya optimis bahwa penyelenggaraan pilgub jabar ini bisa berjalan dengan aman dan lancar,” tegasnya.

    Terkait penggunaan nama Electainment dalam acara tersebut, Nina mengungkapkan, hal ini dilakukan dengan menyesuaikan zaman.

    “Bukan hanya diskusi, tapi juga ada pentas seni, menonton, agar dibuat semenarik mungkin dan tidak membosankan,” terangnya.

    Sementara, Rektor UNWIR, Dr. Ujang Suratno dalam sambutannya mengatakan, Universitas berkewajiban memberikan sosialisasi tentang politik, sebagai akademisi, untuk membangun politik beretika.

    “Saya berharap adik-adik (mahasiswa, red) menjadi agen, agar demokrasi bisa berjalan dengan baik,” harapnya.

    Pada akhir acara juga digelar Deklarasi Pemilih Muda, yang berisikan komitmen untuk menjadi pemilih yang cerdas dan siap untuk menyebarluaskan nilai-nilai yang mereka dapatkan selama acara.

    Sumber: Cuplik.com

    0 196

    KPUD JawaBarat dan Universitas Galuh gelar Electainment On Campus RTVI ( Rock The Vote Indonesia ) untuk Meningkatkan Partisipasi Pemilih Muda Pada Pilgub JawaBarat 2018.

    Acara tersebut di Gelar di Gedung Auditorium Kampus Unigal Kab Ciamis, Senin Siang ( 26/03/2018 ).

    Dalam acara tersebut diHadiri oleh Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Turut Hadir pula Ketua KPUD Kab Ciamis Kikim Tarkim, Nina Bidang Sosialisasi dan Bidang SDM KPUD JawaBarat dan beberapa Staf KPUD JawaBarat, dan juga dihadiri 174 Peserta.

    Nina Bidang Sosialisasi Dan Bidang SDM KPU JawaBarat menyampaikan, Kegiatan ini merupakan rangkaian yang di selenggarakan di Perguruan Tinggi yang ada di JawaBarat, Kampus Unigal merupakan Perguruan Tinggi ke 3 yang di laksanakan oleh KPUD JawaBarat,” Ucapnya.

    Lanjut Nina, tujuan tersebut untuk mengsosialisasikan dan melakukan pendidikan Pemilih bagi Pemilih Muda yang ada di Kampus, karena Total Jumlah Pemilih Muda yang ada di daftar Pemilih mencapai 30% atau lebih dari 9jt, dan ini adalah potensi, maka itu kami melakukan sosialisasi dan pendidikan untuk Pemilih Muda,” Tuturnya.

    Dalam kegiatan pendidikan Pemilih Muda di Unigal ini, peserta akan di ajak berdiskusi tentang persoalan yang menjadi tantangan bagi warga JawaBarat, berdiskusi lebih dalam mengenai Politik, Pemilu, Demokrasi, Partai Politik, Partisipasi, dan juga Simulasi memilih di TPS yang telah di sediakan,” Pungkasnya.

    Sementara itu Ketua Pelaksana/Dekan FISIP Unigal Aan Anwar Sihabudin SH MH MSi mengatakan, dengan Program Sosialisasi tersebut yaitu bagaimana tahapan tahapan untuk proses Pemilihan itu sangat penting sekali,” Ucapnya.

    Lanjut Aan Anwar, dengan Pemilu Cerdas itu sendiri kita mengharapkan untuk menentukan Pemimpin itu sangatlah di perlukan, dengan pemikiran dan kondisi daripada Visi Misi dari masing masing Calon,” Tuturnya.

    Mahasiswa mahasiswi yang telah mengikuti Electainment On Campus RTVI ini diharapkan menjadi Pemilih yang Cerdas, serta mempersiapkan Masa Depan Bangsa dan Negara untuk menjaga Pilgub Jabar 2018 dapat berjalan dengan baik,” Pungkasnya.

    Sumber: Fokuspriangan.com

    0 278

    Menjelang Pemilihan Gubernur Jawa Barat 2018, Fakultas Komunikasi dan Bisnis Telkom University menyelenggarakan program literasi politik “Rock the Vote Indonesia” untuk pemilih pemula di ruang seminar Gedung Intata, Kampus Tel-U, pada Rabu (21/3/2018).

    Kegiatan literasi yang dihadiri sekitar 400-an peserta ini merupakan program kemitraan dengan Komisi Pemilihan Umum Jawa Barat dan lembaga riset politik Centre for Election and Political Party Universitas Indonesia (CEPP-UI). Kegiatan ini juga merupakan rangkaian sosialisasi pilkada yang sedang digiatkan oleh KPU Jabar untuk mengajak pemilih pemula menggunakan hak pilih mereka.

    Berdasarkan data yang ada, Komisioner KPU Jabar Bidang Partisipasi Masyarakat dan Sumber Daya Manusia Nina Yuningsih mengatakan, terdapat kenaikan hingga 20 persen pemilih pemula dari total 31,7 juta pemilih sementara.

    “Dengan komposisi pemilih pemula yang besar, menjadi tanggung jawab kami untuk mengupayakan mereka menggunakan hak pilihnya,” ucap Nina.

    Sementara itu, Direktur CEPP (Center for Election and Political Party) Universitas Indonesia, Reni Suarno menjelaskan Rock The Vote Indonesia merupakan gerakan internasional untuk pemilu semasa pilpres 2012 di Amerika Serikat. Gerakan ini mendorong anak-anak muda untuk tidak apatis dan pragmatis dalam pemilu. Gerakan ini pula yang diterapkan CEPP dalam melakukan sosialisasi Pilgub Jabar untuk pemilih pemula, termasuk di Telkom University.

    0 1030

    Vita Rachim Yudhani, Mahasiswi Program Sarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

    Fajar Kurniawan Firdaus, Mahasiswa Program Sarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

    Politik akhir-akhir ini jadi semarak akibat adanya pemilihan kepala daerah (pikada) dibeberapa daerah di Indonesia. Masyarakat menjadi semakin ikut terlibat dalam perbincangan politik secara langsung maupun di media sosial, termasuk pemuda. Kekurangan dari masyarakat Indonesia yang masih terjadi adalah pandangan terhadap pendefinisian “politik”, dimana atmosfernya begitu elitis—berbicara mengenai pemerintahan suatu negara. Dalam tulisan ini. Tulisan ini membahas politik yang dicap sebagai “akar rumput”: Karang Taruna.

    Singkatnya definisi yang tepat dalam konteks ini adalah politik dimaknai sebagai sebuah kondisi perebutan sumber daya. Mengacu pada sarjana Ilmu Politik, pemahaman mengenai politik distributif sebagai sumber daya yang diperebutkan adalah hal yang lebih mudah dipahami. (Stoke, 2013). Untuk itu, Karang Taruna dapat dipahami makananya lebih luas. Sebab, didalamnya terdiri dari sumber daya manusia yang lekat dengan politik.

    Secara harfiah, Karang Taruna merupakan wadah masyarakat khususnya pemuda dalam memberikan kontribusi bagi tempat tinggalnya. Ia sering kali ada dalam cakupan terkecil: RT, RW, desa, dan kelurahan baik di kota maupun desa.. Mereka banyak andil dalam kegiatan di tempat tinggalnya. Salah satunya, dalam momentum Bulan Kemerdekaan ini, Di hari Kemerdekaan 17 Agustus, posisi karang taruna selalu menjadi sorotan hampir setiap masyarakat. Masyarakat seakan menanti kontribusi Karang Taruna terhadap perayaan kemerdekaan. Namun, kondisi ini seiring dengan bergantinya generasi menjadi sebuah hal yang berbeda pula fenomenanya.

    Indonesia kini mayoritas diisi oleh kelompok masyarakat yang didefinisikan sebagai generasi Y (Millenials) dan Z. Penulis paham bahwa masih cukup beragam definisi ini, Namun, pada konteks Keindonesiaan ini, Penulis merujuk pada definisi yang dijabarkan Aulia Adam dalam laman Tirto.id (28 April 2017) dalam artikel Selamat Tinggal Generasi Millenial, Selamat Datang Generasi Z, bahwa “generasi Z Indonesia adalah mereka yang lahir pada pertengahan 1990-an sampai medio 2000-an”.  Untuk itu, generasi Y (Millenials) adalah generasi yang lahir lebih dahulu (1980-an sampai medio 1990-an. Pada intinya, generasi Y dan Z disebut sebagai mayoritas, karena  mereka adalah pemuda yang lebih unggul baik dalam fisik, maupun semangat untuk melakukan kegiatan.

    Karang Taruna yang Penulis sebut diawal, saat ini, dipegang oleh Generasi Y dan Z. Termasuk Penulis, untuk itu perlu melakukan refleksi: sudahkah kita berkontribusi kepada masyarkat sekitar kita. Kate Lyons dalam The Guardian (8 Maret 2016) melansir bahwa Generasi Y (Millenials) adalah “generasi yang paling terdidik, terkoneksi dengan mudah, memiliki banyak kesempatan, multilingual, dan pemikiran yang global. Namun, kewalahan dengan kondisi disekitar mereka”. Sedangkan, Adam dalam Tirto.id menyebutkan bahwa Generasi Z adalah orang yang sejak lahir sudah terpapar oleh teknologi, sehingga, informasi dapat mereka serap dengan cepat. Generasi Y dan Z hanya berbeda sedikit pada waktu kenalnya mereka pada teknologi. Namun, secara umum, mereka sangat tertarik pada media sosial hingga gaya hidup yang trendi. Efek dari hal ini adalah adanya jarak yang terbentuk antara teknologi dengan kehidupan masyarkat konvensional.

    Kembali pada pendangan Stokes mengenai politik, dimana ada sebuah alokasi sumber daya yang diperebutkan dalam konteks ini. Sumber daya yang dimaksud adalah hasrat kita untuk kontribusi bagi perayaan kemerdekaan Indonesia. Mudahnya, sumber daya yang dimaksud adalah hal dapat menjadi kekuatan dari masyarakat dalam sebuah kehidupan, termasuk hasrat untuk kontribusi. Sedangkan alokasi adalah persiapan Karang Taruna dalam mewujudkan rencana tersebut. Mulai dari rapat persiapan, penyusunan anggaran acara yang akan dibentuk. Ditribusinya adalah peroses perubahan dari hal abstrak sebuah rencana menjadi sebuah produk konkret dari perayaan kemerdekaan.

    Sebagai generasi yang disebut milenials—mungkin bisa disebut Z juga, entah, Penulis lahir di medio 1900-an—Penulis pun tidak mentutup mata bahwa ada masalah disini. Kesibukan memperkuat integritas, terjebak dalam kebutuhan akan gaya hidup dan kesadaran palsu—bahkan sudah tidak sadar, dalam hemat Penulis—atas sebuah kontribusi terhadap masyarakat. Dikatakan kesadaran palsu adalah terkadang kita aktif menyuarakan keluh kesah kita terhadap rezim berkuasa di media sosial, tapi kita lupa ada kontribusi terdekat yang perlu kita lakukan. Kita terlalu sibuk dengan permasalahan yang menurut kita adalah sebuah masalah tanpa refleksi masalah apa yang sebenarnya kita hadapi.

    Semua ini, terjadi karena sudah terjadi perbedaan karakteristik pemudanya. Lihat karakteristik Generasi Y (millennials) dan Z diatas. Terlihat berbeda dengan Generasi Baby Boomers yang menjadi orang tua dari Generasi Y dan Z, apalagi dengan generasi yang lebih tua—yang merasakan penjajahan dan rezim otoriter Indonesia. Generasi sebelum Y dan Z yang kurang akrab dengan teknologi, menjadi lebih menghargai presensi dan keguyuban suatu masyarakat. Untuk itu, Karang Taruna kini menjadi berbeda, karena definisi guyub menurut mereka berbeda. Guyub yang berbasis teknologi. Dalam pengalaman Penulis di Karang Taruna setempat, orang-orangnya menjadi lebih sulit dikumpulkan, karena sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Penulis paham bahwa kita bebas memilih kegiatan, namun, bukankah kita hidup di dunia ini tidak sendiri? Sebagai seorang pemuda, Penulis akan memulai aktivitas politik dari tingkat yang terbawah. Tidak jarang kegiatan perayaan kemerdekaan di isi oleh golongan tua. Sebagai pemuda harusnya kita malu dan tergerak untuk berubah. Belum terlambat bagi setiap diri kita baik pemuda untuk terus berkontribusi dan berpolitik, membentuk diri menjadi masyarkat modern.

    Penulis juga paham betul bahwa kondisi yang terjadi saat ini tidak mudah. Membentuk paradigma alternatif dibawah sebuah narasi besar mengenai definisi politik. Bagi Penulis, perkembangan Ilmu Politik akan terjadi, ketika pandangan alternatif mulai digunakan. Politik tidak hanya terjadi di singgasana pemimpin dan wakil rakyat, akan tetapi, juga ada dalam sekat-sekat perumahan warga negara Indoensia. Terakhir: Ayo, pemuda, tunjukan juga kehebatanmu untuk lingkungan terdekat!


    Sumber:

    Stokes, Susan, Thad Dunning, Marcelo Nazareno, and Valeria Brusco. 2013. Brokers, Voters, and, Clientelism: The Puzzle of Distributive Politics. New York: Cambridge University Press.

    Adam, Aulia. (2017). Selamat Tinggal Generasi Millenial, Selamat Datang Generasi Z, https://tirto.id/selamat-tinggal-generasi-milenial-selamat-datang-generasi-z-cnzX diakses pada 15 Agustus 2017.

    Lyons, Kate. (2016). Generation Y, Curling or Maybe: What The World Calls Millennials, https://www.theguardian.com/world/2016/mar/08/generation-y-curling-or-maybe-what-the-world-calls-millennials diakses pada 15 Agustus 2017

    0 549

    Irhamna, Penulis merupakan Peneliti pada CEPP FISIP UI dan Mahasiswa Pascasarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

    Pemilu Britania Raya 2017 dapat menjadi momentum untuk melihat keberhasilan strategi Partai Buruh dalam mengoptimalkan suara kelompok muda Britania Raya. Generasi Millenial yang dipersepsikan sebagai generasi yang abai, dan apatis, ternyata bertindak diluar persepsi tersebut, mereka terlibat secara aktif dalam kegiatan politik, mulai dari kampanye hingga pemungutan suara.

    Jeremy Corbyn melihat ini sebagai sebuah potensi, dan menargetkan suara dari mereka untuk dapat memenangkan Pemilu. Dalam Pemilu 2017, Partai Buruh berhasil mendapatkan 262 kursi, atau mengalami peningkatan sebanyak 32 kursi jika dibandingkan pada Pemilu 2015. Meskipun tidak mendapatkan suara mayoritas di Parlemen, dengan perolehan tersebut Partai Buruh berhasil menyebabkan hung parliament, atau kondisi dimana tidak ada satupun partai politik yang berhasil meraih suara mayoritas.

    Strategi yang digunakan oleh Corbyn adalah melakukan variasi dalam kampanye, kombinasi antara kampanye tatap muka (old-style rally), dengan kampanye daring (online). Jeremy Corbyn adalah sosok yang dianggap “jujur” bukan tipe politisi yang sering mengumbar janji. Corbyn dianggap sebagai figur yang bisa menyelamatkan Britania Raya, terutama dalam menghadapi proses negosiasi Brexit. Dalam sebuah video yang viral di Instagram setelah Pemilu selesai, adalah yel-yel dari pendukung Corbyn yang menyanyikan namanya dalam nada dari lagu Seven Nation Army yang dinyanyikan oleh The White Stripes.

    Dalam kampanyenya, dia selalu memberikan perhatian terhadap peran dari kelompok milenial, Corbyn menanggap bahwa mereka yang akan membawa perubahan. Untuk melakukan kampanye daring tersebut, Corbyn didukung oleh tim khusus yang merupakan orang-orang muda yang kompeten dalam bidang teknologi. Strategi Corbyn ini pada awalnya menjadi bahan olok-olok dari Partai Konservatif, mereka dengan yakin menyatakan bahwa strategi untuk memenangkan pemilih muda hanya akan memberikan kemenangan kepada Partai Konservatif, karena adanya asumsi bahwa kelompok ini apatis.

    Partai Konservatif pun melakukan serangkaian kampanye melalui berbagai platform, termasuk media sosial tetapi isu kampanye mereka tidak ditanggapi secara positif oleh para warganet (netizen), mereka menganggap kampanye yang dilakukan oleh Perdana Menteri Theresa May dan Partai Konservatif bukan sebuah kampanye yang otentik, bahkan cenderung bersifat negatif, sehingga tidak viral karena tidak ada yang mau diasosiasikan dengan materi kampanye tersebut. Sementara itu, Partai Buruh dianggap oleh warganet yang mayoritas merupakan kelompok milenial adalah sebuah manifesto politik yang konkrit, dan berdampak langsung terhadap mereka.

    Lantas, apa yang menyebabkan kelompok milenial menjadi memilih Partai Buruh? Pertama, Partai Buruh meluncurkan sebuah platform berbasis teks, yangd disebut Chatter. Aplikasi ini memungkinkan konstituen untuk berinteraksi langsung dengan para calon anggota Parlemen dari Partai Buruh, saling berdialog dan bukan hanya mendengarkan monolog kampanye. Kondisi ini menyebabkan para konstituen merasa terlibat, dan didengarkan langsung, sehingga pesan kampanye dapat ditangkap lebih jelas.  Kedua, Partai Buruh memanfaatkan Facebook dengan membangun sebuah tool bernama Promote, tool tersebut mengombinasikan data dari Facebook dan data dari pemilih Partai Buruh. Para Kandidat dapat mengirimkan pesan kampanye kepada orang yang tepat, pada daerah yang tepat. Mereka menganggap bahwa kampanye yang menggunakan isu lokal lebih berdampak dibandingkan kampanye hanya dengan isu nasional.

    Sumber:

    Michael Savage dan Alex Hacillo (2017) “How Jeremy Corbyn Turned a Youth Surge into General Election Votes” dikutip dalam https://www.theguardian.com/politics/2017/jun/10/jeremy-corbyn-youth-surge-votes-digital-activists diakses pada 13 Juni 2017, pukul 11.03 WIB.

    0 435

    Irhamna, Penulis merupakan Peneliti pada CEPP FISIP UI dan Mahasiswa Pascasarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

    Pemilu Britania Raya telah berhasil diselenggarakan pada Kamis, 8 Juni lalu, kini seluruh pihak tengah menunggu hasil penghitungan suara resmi. Apakah PM May mampu mempertahankan posisinya, atau justru Jeremy Corbyn dari Partai Buruh berhasil menyalip secara mengejutkan?

    Dalam hasil penghitungan suara per Jumat, 9 Juni pukul 14.00 WIB (GMT+7) adalah sebagai berikut:

    Partai Politik Jumlah Kursi
    Konservatif 314
    Buruh 261
    Partai Nasional Skotlandia (SNP) 35
    Liberal Demokrat 12
    Democratic Union Party (DUP) 10
    Lainnya 13
    Total 645

    Sumber: BBC

    Dari tabel tersebut terlihat masih terdapat 5 kursi yang masih diperebutkan, tetapi meskipun kelima kursi tersebut diraih oleh Partai Konservatif, maka jumlah total kursi mereka masih 319 kursi, masih kurang 7 kursi dari 326 kursi. Mengacu kepada hasil penghitungan tersebut, maka Pemilu Britania Raya 2017 menghasilkan apa yang disebut dengan hung parliament.

    Hung Parliament adalah kondisi dimana tidak ada partai politik yang mampu meraih suara mayoritas. Pemilu Britania Raya memperebutkan 650 kursi, dengan jumlah tersebut maka dibutuhkan 326 kursi (50%+1 kursi) bagi sebuah partai politik untuk dapat membentuk pemerintahan sendiri. Dalam kondisi seperti ini, partai dengan suara terbanyak masih dapat membentuk pemerintahan, mereka dapat menjalankan pemerintahan dengan dukungan minoritas (minority government) tetapi mereka akan sangat bergantung kepada dukungan dari partai lain, untuk dukungan dalam pembentukan kebijakan atau undang-undang.

    Dengan 314 kursi saat ini (Partai Konservatif memasang target mereka pada 318 kursi), PM Theresa May tetap dapat berkantor di 10 Downing Street. Partai Konservatif kehilangan 14 kursi dari “perjudian” yang dilakukan oleh PM May, sementara itu Partai Buruh mendapatkan tambahan kursi mencapai 29 kursi.

    Salah satu langkah taktis yang harus dilakukannya dalam waktu dekat adalah melakukan negosiasi dan membentuk pemerintahan koalisi sehingga bisa meraih suara mayoritas di Parlemen. Opsi berikutnya adalah, PM May mengundurkan diri. Jika opsi tersebut diambil, maka Jeremy Corbyn akan memiliki kesempatan untuk menjadi Perdana Menteri berikutnya dan membentuk pemerintahan.

    Lantas, berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh PM May untuk melakukan negosiasi dan mencari koalisi? Tidak ada batas waktu resmi terkait proses negosiasi ini, pada Pemilu 2010 misalnya yang juga menghasilkan Hung Parliament, hanya dibutuhkan waktu 5 hari untuk membentuk pemerintahan koalisi. Tetapi, pada 13 Juni nanti dapat menjadi momentum tersendiri, saat Parlemen yang baru akan menggelar sidang perdana mereka. Pertemuan House of Commons tersebut akan menjadi penanda apakah PM May mampu mendapatkan kepercayaan mayoritas dari anggota Parlemen, atau tetap menjalankan minority government? Sepertinya kita masih harus sedikit bersabar untuk mengetahui hasil tersebut.

    May or Corbyn? Stay curious!

    0 572

    Irhamna, Penulis merupakan Peneliti pada CEPP FISIP UI dan Mahasiswa Pascasarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

    Kamis, 8 Juni 2017 menjadi salah satu momentum penting dalam politik dalam negeri Britania Raya, terlepas dari rumitnya proses pelaksanaan Article 50 Treaty of European Union sebagai konsekuensi dari referendum (Brexit) pada Juni 2016 yang lalu, mereka siap untuk menyelenggarakan Pemilihan Umum. Perdana Menteri Theresa May, pada 19 April 2017 memutuskan untuk melakukan snap election (Pemilu yang dipercepat) setelah mendapatkan lebih 2/3 dukungan mayoritas di Parlemen (522 suara melawan 13 suara yang menolak Pemilu dilaksanan lebih awal). Padahal, jika mengacu kepada Fixed Term Parliament Act 2011, Pemilu baru akan diselenggarakan pada 7 Mei 2020, karena diatur bahwa Pemilu akan diselenggarakan setiap lima tahun pada minggu pertama bulan Mei. Tetapi, aturan tersebut bisa tidak berlaku jika terjadi mosi tidak percaya terhadap Petahana, atau merupakan keputusan dari 2/3 anggota Parlemen.

    Keputusan PM May untuk melakukan pemilu lebih awal tiga tahun dari yang dijadwalkan antara lain karena PM May ingin proses negosiasi Brexit berjalan dengan lancar, PM May menganggap bahwa tanpa ada dukungan mayoritas dari Parlemen maka proses tersebut akan mengalami sejumlah kendala, dan dalam beberapa jajak pendapat yang dilakukan, Partai Konservatif selalu unggul dari Partai Buruh (BBC)

    Sebagai negara yang memperkenalkan sistem parlementer, Pemilu Britania Raya 2017, memiliki dua kandidat utama yang akan bersaing untuk memenangkan kursi Perdana Menteri, Theresa May dari Partai Konservatif, dan Jeremy Corbyn dari Partai Buruh. Meskipun, terdapat partai lain seperti Liberal Demokrat, Partai Nasional Skotlandia (SNP), Sinn Fein, Plaid Cymru, dan United Kingdom Independent Party (UKIP).

    Masing-masing partai telah menyampaikan manifesto politiknya dalam Pemilu 2017. Partai Konservatif misalnya, menjanjikan sebuah pemerintahan arus utama yang akan berpihak kepada Britania Raya secara menyeluruh. Partai Buruh akan fokus kepada perubahan kebijakan fiskal dengan rencana kenaikan pajak penghasilan bagi mereka yang berpenghasilan diatas £80.000. Tim Farron sebagai Pemimpin Partai Liberal Demokrat menjanjikan akan melakukan referendum kedua terkait dengan posisi Britania Raya di Uni Eropa, sementara itu SNP menginginkan adanya referendum bagi Skotlandia pada akhir proses negosiasi Brexit. Sementara itu, Plaid Cymru menjanjikan daya tawar yang lebih tinggi terhadap Wales dalam proses negosiasi Brexit, dan Sinn Fein yang berbasis di Irlandia Utara menjanjikan era baru politik yang lebih terbuka. UKIP mengangkat isu yang sedikit berbeda, mereka berjanji untuk menyelesaikan masalah-masalah yang terkait dengan radikalisme Islam. Masalah yang dalam beberapa bulan terakhir menjadi pusat perhatian, setelah serangkaian aksi teror yang terjadi di London, dan Manchester (BBC).

    Dua kejadian tragis pada 22 Mei dan 3 Juni yang lalu memiliki dampak yang cukup signifikan terhadap persiapan pemilu. Seluruh kegiatan kampanye ditunda selama 24 jam hingga Ahad, 4 Juni, setelah sebelumnya pada insiden bom di Manchester kegiatan kampanye ditunda selama 72 jam. Kondisi yang menyebabkan PM May menyampaikan kutukannya dengan keras kepada seluruh ideologi-idelogi jahat, enough is enough.

    Dalam bentuk lanjut, PM May berencana untuk melakukan revisi terhadap sejumlah peraturan perundangan yang terkait dengan kontra-terorisme, memperpanjang masa hukuman bagi pelaku, dan menyatakan bahwa UU Hak Azasi Manusia tidak akan menjadi penghalangnya untuk memberantas terorisme di Britania Raya (Telegraph). Isu ini menjadikan posisi tawar Jeremy Corbyn sedikit lebih baik, dalam pidato kampanyenya terkait serangkaian tindakan teror di Britania Raya, Corbyn menyatakan bahwa terorisme tidak akan bisa dikalahkan dengan menghapuskan hak azasi dan dasar-dasar demokrasi. Corbyn kemudian juga mengutuk tindakan Royal Air Force (RAF) yang mengebom milisi di Suriah dengan bom yang bertuliskan “Love from Manchester”. Corbyn menilai bahwa keterlibatan Britania Raya dalam perang justru akan semakin meningkatkan risiko teror itu sendiri (Independent, Telegraph). Pernyataan ini mendapatkan dukungan luas dari kelompok non-intervensi, dan sejumlah pengamat menilai bahwa pidato Corbyn tersebut dapat berdampak signifikan dalam Pemilu nanti.

    Tidak hanya sampai disitu, Twitter pun sempat “panas” setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump merisak argumen dari Walikota London, Sadiq Khan, yang menyatakan bahwa apa yang terjadi di London belum menjadi alasan untuk berhati-hati. Sadiq Khan pun merespon bahwa  PM May tidak perlu mempersiapkan kunjungan kenegeraan Presiden Trump ke London dalam waktu dekat.

    Pertarungan menuju siapa yang akan berkantor di 10 Downing Street,  Westminster, London, semakin menarik untuk dicermati. Data dari sejumlah pollsters, dalam jajak pendapat yang mereka lakukan Partai Konservatif memang masih unggul dibanding Partai Buruh. YouGov misalnya, merilis data 42% untuk Partai Konservatif, dan 38% untuk Partai Buruh. Sementara itu, data dari Telegraph dan BBC menyajikan rerata dukungan sebesar 42,9%  terhadap Partai Konservatif, dan 37,2% untuk Partai Buruh. Meskipun demikian, dalam beberapa jajak pendapat terkini yang dilakukan, terdapat tren positif peningkatan suara Partai Buruh, meskipun belum cukup tinggi untuk mengalahkan dominasi Partai Konservatif. Jika tren ini berlanjut hingga hari pemungutan suara, bukan tidak mungkin margin kemenangan Partai Konservatif akan semakin tipis dari yang selama ini dibayangkan, dan akan menjadi pertaruhan terbesar May jika seandainya mereka gagal untuk mempertahankan suara mayoritas Konservatif di Parlemen.

    May or Corbyn? Stay curious! J