Oleh: Irhamna, Peneliti pada Center for Election and Political Party FISIP UI

Kultur patriarki telah mengalienasi perempuan dari ranah publik dan perempuan harus melakukan perannya di ranah domestik. Tesingkirnya perempuan dari ranah publik berdampak pada peran perempuan di ranah domestik, karena mereka menjadi bagian dari struktur sosial, ekonomi dan politik yang ditentukan oleh mereka yang berperan di ranah publik. Dalam hal partisipasi politik, perempuan secara substansi baru sebatas menjadi pemilih belum pada tahapan dipilih, mengingat masih rendahnya keterwakilan perempuan dalam politik. Tetapi hal ini, telah membawa perubahan yang berarti jika kita melihatnya dari perspektif partisipasi penuh warga negara sebagai salah satu indikator keberhasilan demokrasi di sebuah negara. Secara ekonomi, perempuan belum bisa menghasilkan dan mengakumulasikan modal secara lebih baik jika dibandingkan dengan laki-laki. Keterbatasan-keterbatasan inilah yang dapat didefinisikan secara sederhana sebagai ketidaksetaraan dan ketidakadilan gender.

You educate a man, you educate a man. You educate a women, you educate a generation”- Brigham Young

Berbicara mengenai sejarah pemberdayaan perempuan di Indonesia, banyak ahli yang merujuk pada perjuangan Raden Ajeng Kartini (1879-1904) sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Perjuangan ini terus menerus diamplifikasi melalui serangkaian peristiwa mulai dari Kongres Perempuan Indonesia tahun 1928, ratifikasi Konvensi atas Pengahapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan tahun 1984, sampai pada Millenium Development Goals dan Pengarustamaan Gender pada tahun 2000. Meskipun demikian, Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan Indeks Ketimpangan Gender (IKG) yang tinggi di Kawasan ASEAN.

Masalah-masalah pemberdayaan perempuan di Indonesia pada dasarnya adalah turunan dari ketidakadilan gender. Pemerintah masih gagap dalam mengimplementasikan Pengarustamaan Gender. Salah satu faktor yang menjadi penyebab adalah sosialisasi sadar gender yang tidak mengakar. Isu gender dikemas menjadi isu yang bersifat elitis sehingga banyak masyarakat yang tidak memahami pentingnya kesadaran, kesetaraan dan keadilan gender. Padahal seharusnya isu gender menjadi isu “warung kopi” yang membumi dan bisa dibicarakan dimana saja, oleh siapa saja, dan kapan saja. Pendidikan kesetaraan gender mungkin bisa dimulai pada kelompok penduduk usia muda (17-29 tahun) yang cenderung memiliki karakter pemikiran lebih terbuka dan kritis jika dibandingkan dengan kelompok penduduk dengan usia lebih tua. Sementara itu, lemahnya sinkronisasi agenda pembangunan antara pusat dan daerah juga sering menjadi masalah dalam pengarusutamaan gender di beberapa daerah, dalam konteks ini adalah banyaknya peraturan daerah yang belum sensitif gender dan cenderung merugikan kelompok perempuan.

Pemilahan antara laki-laki dan perempuan merupakan hal yang alamiah dan tidak dapat diubah, namun banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengubah ketidakadilan gender. Dalam hal ini, pentingnya institusionalisasi kehidupan manusia dalam masyarakat, yakni untuk memberikan ruang kebebasan yang sama bagi semua orang agar mencapai tujuan masing-masing sambil mengupayakan kehidupan bersama yang layak dan adil. Ketidakadilan gender harus dilihat sebagai ketidakberuntungan yang layak untuk dikompensasi. Tidak seorang pun menghendaki diperlakukan secara tidak adil. Berkaca dari adagium Brigham Young diatas sudah saatnya negara mulai memberikan perhatian yang serius terhadap isu pemberdayaan perempuan, kesetaraan dan keadilan gender demi generasi-generasi Indonesia berikutnya.

Perubahan mindset dari patriarki menuju kesetaraan butuh waktu yang tidak sebentar, perjuangan perempuan belum selesai, mimpi-mimpi Kartini tentang emansipasi perempuan harus senantiasa dihidupkan di hati perempuan Indonesia, bukankah separuh penduduk negeri ini adalah perempuan dan separuhnya lagi dilahirkan oleh perempuan? Saya percaya bahwa perempuan Indonesia bisa mengubah hambatan menjadi jembatan, demi terwujudnya demokrasi yang bernafaskan kesetaraandan keadilan gender.

NO COMMENTS

Leave a Reply