Irhamna, Penulis merupakan Peneliti pada CEPP FISIP UI dan Mahasiswa Pascasarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Pemilu Presiden Prancis Putaran II (run-off) telah diselenggarakan pada Ahad, 7 Mei lalu. Dalam hasil sementara yang dirilis oleh Departemen Dalam Negeri Prancis, Emmanuel Macron (39) dari EnMarche! berhasil meraih 20.703.694 suara (66,06%), sementara itu Marine Le Pen dari Front Nationale hanya mampu meraih 10.637.120 suara (33,94).

Kemenangan Macron ini menjadi penanda baru dalam konjungtur politik Prancis. Macron akan menjadi presiden termuda dalam sejarah Republik Kelima, dan presiden pertama yang bukan berasal dari dua partai politik besar (Partai Sosialis dan Front Nationale). Macron bersama EnMarche! telah berkomitmen untuk berada pada jalan tengah, tidak memilih polarisasi ideologi kiri ataupun kanan. Macron menjadi harapan baru rakyat Prancis, ditengah perubahan kekuatan global yang cenderung konservatif, Macron menawarkan sejumlah pilihan kebijakan yang menggiurkan, seperti: keinginan untuk terus bertahan dalam Uni Eropa, kebijakan ekonomi yang pro-pasar, dan kebijakan pro-imigran. Kebijakan yang bukan menjadi pilihan oleh Le Pen. Meminjam judul dari salah satu trilogi Star Wars, Macron adalah A New Hope.

Sebagai sebuah harapan baru, Macron juga diuntungkan oleh beberapa skandal yang menimpa calon presiden lain, seperti skandal Penelopegate Francois Fillon. Tetapi, terlalu naif jika kita menganggap bahwa kemenangan Macron adalah sebuah keberuntungan atau disebabkan oleh skandal calon lain, meskipun Macron juga dihadapkan pada skandal bocornya sejumlah dokumen terkait kegiatan kampanyenya. Saya lebih sepakat jika Macron menang karena menawarkan pilihan kebijakan baru bagi rakyat Prancis. Keputusan Macron untuk mendirikan EnMarche! dan mundur sebagai Menteri Ekonomi, Industri, dan Digital, terinspirasi dari kampanye Barack Obama saat Pemilu Amerika Serikat tahun 2008. Pilihan untuk fokus menggarap basis masa di akar rumput melalui para sukarelawan. Macron muncul sebagai tokoh yang non-elitis, dan terbuka.

Kemenangan Macron disambut dengan gembira bukan hanya oleh rakyatnya, tetapi juga negara-negara lain, seperti Jerman. Juru Bicara Kanselir Jerman menyatakan bahwa ini adalah kemenangan untuk Eropa yang bersatu dan lebih kuat. Macron adalah pilihan yang tepat bagi masa depan Uni Eropa. Tantangan terbesar pemerintahan Macron adalah saat Pemilu Legislatif digelar bulan depan, tanpa ada dukungan mayoritas dari Parlemen, berat rasanya bagi Macron untuk merealisasikan seluruh manifesto politiknya.  Selamat untuk Presiden Macron, ensemble la France, vive la France!

NO COMMENTS

Leave a Reply