Irhamna, Penulis merupakan Peneliti pada CEPP FISIP UI dan Mahasiswa Pascasarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Pemilu Britania Raya telah berhasil diselenggarakan pada Kamis, 8 Juni lalu, kini seluruh pihak tengah menunggu hasil penghitungan suara resmi. Apakah PM May mampu mempertahankan posisinya, atau justru Jeremy Corbyn dari Partai Buruh berhasil menyalip secara mengejutkan?

Dalam hasil penghitungan suara per Jumat, 9 Juni pukul 14.00 WIB (GMT+7) adalah sebagai berikut:

Partai Politik Jumlah Kursi
Konservatif 314
Buruh 261
Partai Nasional Skotlandia (SNP) 35
Liberal Demokrat 12
Democratic Union Party (DUP) 10
Lainnya 13
Total 645

Sumber: BBC

Dari tabel tersebut terlihat masih terdapat 5 kursi yang masih diperebutkan, tetapi meskipun kelima kursi tersebut diraih oleh Partai Konservatif, maka jumlah total kursi mereka masih 319 kursi, masih kurang 7 kursi dari 326 kursi. Mengacu kepada hasil penghitungan tersebut, maka Pemilu Britania Raya 2017 menghasilkan apa yang disebut dengan hung parliament.

Hung Parliament adalah kondisi dimana tidak ada partai politik yang mampu meraih suara mayoritas. Pemilu Britania Raya memperebutkan 650 kursi, dengan jumlah tersebut maka dibutuhkan 326 kursi (50%+1 kursi) bagi sebuah partai politik untuk dapat membentuk pemerintahan sendiri. Dalam kondisi seperti ini, partai dengan suara terbanyak masih dapat membentuk pemerintahan, mereka dapat menjalankan pemerintahan dengan dukungan minoritas (minority government) tetapi mereka akan sangat bergantung kepada dukungan dari partai lain, untuk dukungan dalam pembentukan kebijakan atau undang-undang.

Dengan 314 kursi saat ini (Partai Konservatif memasang target mereka pada 318 kursi), PM Theresa May tetap dapat berkantor di 10 Downing Street. Partai Konservatif kehilangan 14 kursi dari “perjudian” yang dilakukan oleh PM May, sementara itu Partai Buruh mendapatkan tambahan kursi mencapai 29 kursi.

Salah satu langkah taktis yang harus dilakukannya dalam waktu dekat adalah melakukan negosiasi dan membentuk pemerintahan koalisi sehingga bisa meraih suara mayoritas di Parlemen. Opsi berikutnya adalah, PM May mengundurkan diri. Jika opsi tersebut diambil, maka Jeremy Corbyn akan memiliki kesempatan untuk menjadi Perdana Menteri berikutnya dan membentuk pemerintahan.

Lantas, berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh PM May untuk melakukan negosiasi dan mencari koalisi? Tidak ada batas waktu resmi terkait proses negosiasi ini, pada Pemilu 2010 misalnya yang juga menghasilkan Hung Parliament, hanya dibutuhkan waktu 5 hari untuk membentuk pemerintahan koalisi. Tetapi, pada 13 Juni nanti dapat menjadi momentum tersendiri, saat Parlemen yang baru akan menggelar sidang perdana mereka. Pertemuan House of Commons tersebut akan menjadi penanda apakah PM May mampu mendapatkan kepercayaan mayoritas dari anggota Parlemen, atau tetap menjalankan minority government? Sepertinya kita masih harus sedikit bersabar untuk mengetahui hasil tersebut.

May or Corbyn? Stay curious!

NO COMMENTS

Leave a Reply