Irhamna, Penulis merupakan Peneliti pada CEPP FISIP UI dan Mahasiswa Pascasarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Pemilu Britania Raya 2017 dapat menjadi momentum untuk melihat keberhasilan strategi Partai Buruh dalam mengoptimalkan suara kelompok muda Britania Raya. Generasi Millenial yang dipersepsikan sebagai generasi yang abai, dan apatis, ternyata bertindak diluar persepsi tersebut, mereka terlibat secara aktif dalam kegiatan politik, mulai dari kampanye hingga pemungutan suara.

Jeremy Corbyn melihat ini sebagai sebuah potensi, dan menargetkan suara dari mereka untuk dapat memenangkan Pemilu. Dalam Pemilu 2017, Partai Buruh berhasil mendapatkan 262 kursi, atau mengalami peningkatan sebanyak 32 kursi jika dibandingkan pada Pemilu 2015. Meskipun tidak mendapatkan suara mayoritas di Parlemen, dengan perolehan tersebut Partai Buruh berhasil menyebabkan hung parliament, atau kondisi dimana tidak ada satupun partai politik yang berhasil meraih suara mayoritas.

Strategi yang digunakan oleh Corbyn adalah melakukan variasi dalam kampanye, kombinasi antara kampanye tatap muka (old-style rally), dengan kampanye daring (online). Jeremy Corbyn adalah sosok yang dianggap “jujur” bukan tipe politisi yang sering mengumbar janji. Corbyn dianggap sebagai figur yang bisa menyelamatkan Britania Raya, terutama dalam menghadapi proses negosiasi Brexit. Dalam sebuah video yang viral di Instagram setelah Pemilu selesai, adalah yel-yel dari pendukung Corbyn yang menyanyikan namanya dalam nada dari lagu Seven Nation Army yang dinyanyikan oleh The White Stripes.

Dalam kampanyenya, dia selalu memberikan perhatian terhadap peran dari kelompok milenial, Corbyn menanggap bahwa mereka yang akan membawa perubahan. Untuk melakukan kampanye daring tersebut, Corbyn didukung oleh tim khusus yang merupakan orang-orang muda yang kompeten dalam bidang teknologi. Strategi Corbyn ini pada awalnya menjadi bahan olok-olok dari Partai Konservatif, mereka dengan yakin menyatakan bahwa strategi untuk memenangkan pemilih muda hanya akan memberikan kemenangan kepada Partai Konservatif, karena adanya asumsi bahwa kelompok ini apatis.

Partai Konservatif pun melakukan serangkaian kampanye melalui berbagai platform, termasuk media sosial tetapi isu kampanye mereka tidak ditanggapi secara positif oleh para warganet (netizen), mereka menganggap kampanye yang dilakukan oleh Perdana Menteri Theresa May dan Partai Konservatif bukan sebuah kampanye yang otentik, bahkan cenderung bersifat negatif, sehingga tidak viral karena tidak ada yang mau diasosiasikan dengan materi kampanye tersebut. Sementara itu, Partai Buruh dianggap oleh warganet yang mayoritas merupakan kelompok milenial adalah sebuah manifesto politik yang konkrit, dan berdampak langsung terhadap mereka.

Lantas, apa yang menyebabkan kelompok milenial menjadi memilih Partai Buruh? Pertama, Partai Buruh meluncurkan sebuah platform berbasis teks, yangd disebut Chatter. Aplikasi ini memungkinkan konstituen untuk berinteraksi langsung dengan para calon anggota Parlemen dari Partai Buruh, saling berdialog dan bukan hanya mendengarkan monolog kampanye. Kondisi ini menyebabkan para konstituen merasa terlibat, dan didengarkan langsung, sehingga pesan kampanye dapat ditangkap lebih jelas.  Kedua, Partai Buruh memanfaatkan Facebook dengan membangun sebuah tool bernama Promote, tool tersebut mengombinasikan data dari Facebook dan data dari pemilih Partai Buruh. Para Kandidat dapat mengirimkan pesan kampanye kepada orang yang tepat, pada daerah yang tepat. Mereka menganggap bahwa kampanye yang menggunakan isu lokal lebih berdampak dibandingkan kampanye hanya dengan isu nasional.

Sumber:

Michael Savage dan Alex Hacillo (2017) “How Jeremy Corbyn Turned a Youth Surge into General Election Votes” dikutip dalam https://www.theguardian.com/politics/2017/jun/10/jeremy-corbyn-youth-surge-votes-digital-activists diakses pada 13 Juni 2017, pukul 11.03 WIB.

NO COMMENTS

Leave a Reply