Irhamna, Penulis merupakan Peneliti pada CEPP FISIP UI dan Mahasiswa Pascasarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Rwanda adalah negara yang memiliki posisi geografis di selatan Benua Afrika. Wilayah ini pada dekade 1990 menjadi pusat perhatian dunia karena peristiwa genosida dan perang sipil antara suku Hutu dan Tutsi, dua suku terbesar di Rwanda. Konflik diawali oleh kedatangan koloni Belgia yang pada akhirnya menduduki wilayah Rwanda, serta melakukan stratifikasi terhadap suku yang berada di negara tersebut. Etnis Tutsi dan Hutu merupakan dua suku yang masuk dalam stratifikasi Belgia. Pada saat itu, Suku Tutsi yang bertindak sebagai suku minoritas di Rwanda diberikan kekuasaan negara oleh Belgia. Hal tersebut menimbulkan rasa ketidakadilan bagi suku Hutu yang merupakan suku mayoritas. Seiring berjalannya pemerintahan oleh suku Tutsi, muncul pernyataan – dari Belgia – bahwa pemerintahan di Rwanda akan dialihkan kepada suku Hutu. Suku Hutu yang akhirnya menggantikan posisi Tutsi dalam pemerintahan Rwanda melakukan dominasi di wilayah Rwanda, sehingga suku Hutu terus berkuasa di kursi pemerintahan Rwanda. Dengan latar belakang dominasi ini dan terbunuhnya Presiden Rwanda saat itu – Juvenal Habyarimana – terjadilah konflik etnis antara suku Hutu dan Tutsi pada tahun 1994 (Oktaviani, 2016).  Konflik yang kemudian diselesaikan oleh Presiden Rwanda inkumben, Paul Kagame.

Presiden selaku kepala negara memiliki kekuasaan yang luas, termasuk menunjuk Perdana Menteri dan seluruh jajaran kabinet. Posisi ini menyebabkan Presiden menjadi figur sentral dalam pemerintahan Rwanda. Saat ini, Presiden Rwanda dijabat oleh Paul Kagame. Dalam amandemen konstitusi Rwanda 2015, masa jabatan Presiden diperpanjang. Seorang Presiden boleh maju dalam pemilihan masa jabatan ketiga (satu masa jabatan selama 7 tahun), dan dapat diikuti oleh 2 kali masa jabatan berikutnya selama masing-masing 5 tahun. Dengan kondisi tersebut, calon inkumben Paul Kagame dapat menjabat Presiden Rwanda hingga tahun 2034 nanti.

Pemilu Presiden 2017 akan diikuti oleh tiga orang calon presiden: Paul Kagame, Frank Habineza, dan Phillipe Mpayimana.Paul  Kagame berasal dari Patrai Patriotik Rwanda (Rwandan Patriotic Form/RPF), sosoknya menjadi kunci yang mengakhiri genosida dan perang sipil. Karir politiknya dimulai dengan menjadi Wakil Presiden setelah perang usai, dan pada tahun 2000 menjadi Presiden pada pemerintahan transisi. Pada tahun 2003, Kagame terpilih sebagai presiden definitif untuk masa jabatan tujuh tahun hingga 2010, dan kemudian menjalani masa jabatan periode kedua dari 2010-2017. Kagame menorehkan sejumlah capaian yang menjadikan Rwanda sebagai salah satu negara yang mengalami pertumbuhan ekonomi pesat, mengurangi jumlah penduduk miskin, perbaikan dalam akses kesehatan,  dan kontrol terhadap korupsi.

Sementara itu, dua orang lain yang menjadi kompetitor Kagame, Habienza dan Mpayimana, adalah dua tokoh alternatif. Habineza adalah calon dari Democratic Green Party of Rwanda, yang berdiri sejak 2009 namun baru boleh mengikuti Pemilu pada 2013. Habienza sempat mencari suaka politik setelah peristiwa pembunuhan salah satu deputi partainya. Phillipe Mpayimana adalah kandidat independen yang tidak memiliki pengalaman politik sebelumnya. Mpayimana adalah penulis dan mantan wartawan yang kritis terhadap dinamika politik Rwanda. Dirinya juga pernah mendapatkan suaka politik dari tahun 1994 sampai awal tahun 2017, sebelum kemudian memutuskan untuk maju menjadi kandidat presiden.

Pemilu Rwanda sendiri akan dilaksanakan pada 4 Agustus 2017, sejumlah lembaga survei memprediksi Presiden Kagame akan menang dengan selisih suara yang signifikan.

Sumber:

“Election Guide: What You Need to Know about the Rwandan Presidential Poll” dalam http://theconversation.com/election-guide-what-you-need-to-know-about-the-rwandan-presidential-poll-81496