Vita Rachim Yudhani, Mahasiswi Program Sarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Fajar Kurniawan Firdaus, Mahasiswa Program Sarjana Departemen Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Politik akhir-akhir ini jadi semarak akibat adanya pemilihan kepala daerah (pikada) dibeberapa daerah di Indonesia. Masyarakat menjadi semakin ikut terlibat dalam perbincangan politik secara langsung maupun di media sosial, termasuk pemuda. Kekurangan dari masyarakat Indonesia yang masih terjadi adalah pandangan terhadap pendefinisian “politik”, dimana atmosfernya begitu elitis—berbicara mengenai pemerintahan suatu negara. Dalam tulisan ini. Tulisan ini membahas politik yang dicap sebagai “akar rumput”: Karang Taruna.

Singkatnya definisi yang tepat dalam konteks ini adalah politik dimaknai sebagai sebuah kondisi perebutan sumber daya. Mengacu pada sarjana Ilmu Politik, pemahaman mengenai politik distributif sebagai sumber daya yang diperebutkan adalah hal yang lebih mudah dipahami. (Stoke, 2013). Untuk itu, Karang Taruna dapat dipahami makananya lebih luas. Sebab, didalamnya terdiri dari sumber daya manusia yang lekat dengan politik.

Secara harfiah, Karang Taruna merupakan wadah masyarakat khususnya pemuda dalam memberikan kontribusi bagi tempat tinggalnya. Ia sering kali ada dalam cakupan terkecil: RT, RW, desa, dan kelurahan baik di kota maupun desa.. Mereka banyak andil dalam kegiatan di tempat tinggalnya. Salah satunya, dalam momentum Bulan Kemerdekaan ini, Di hari Kemerdekaan 17 Agustus, posisi karang taruna selalu menjadi sorotan hampir setiap masyarakat. Masyarakat seakan menanti kontribusi Karang Taruna terhadap perayaan kemerdekaan. Namun, kondisi ini seiring dengan bergantinya generasi menjadi sebuah hal yang berbeda pula fenomenanya.

Indonesia kini mayoritas diisi oleh kelompok masyarakat yang didefinisikan sebagai generasi Y (Millenials) dan Z. Penulis paham bahwa masih cukup beragam definisi ini, Namun, pada konteks Keindonesiaan ini, Penulis merujuk pada definisi yang dijabarkan Aulia Adam dalam laman Tirto.id (28 April 2017) dalam artikel Selamat Tinggal Generasi Millenial, Selamat Datang Generasi Z, bahwa “generasi Z Indonesia adalah mereka yang lahir pada pertengahan 1990-an sampai medio 2000-an”.  Untuk itu, generasi Y (Millenials) adalah generasi yang lahir lebih dahulu (1980-an sampai medio 1990-an. Pada intinya, generasi Y dan Z disebut sebagai mayoritas, karena  mereka adalah pemuda yang lebih unggul baik dalam fisik, maupun semangat untuk melakukan kegiatan.

Karang Taruna yang Penulis sebut diawal, saat ini, dipegang oleh Generasi Y dan Z. Termasuk Penulis, untuk itu perlu melakukan refleksi: sudahkah kita berkontribusi kepada masyarkat sekitar kita. Kate Lyons dalam The Guardian (8 Maret 2016) melansir bahwa Generasi Y (Millenials) adalah “generasi yang paling terdidik, terkoneksi dengan mudah, memiliki banyak kesempatan, multilingual, dan pemikiran yang global. Namun, kewalahan dengan kondisi disekitar mereka”. Sedangkan, Adam dalam Tirto.id menyebutkan bahwa Generasi Z adalah orang yang sejak lahir sudah terpapar oleh teknologi, sehingga, informasi dapat mereka serap dengan cepat. Generasi Y dan Z hanya berbeda sedikit pada waktu kenalnya mereka pada teknologi. Namun, secara umum, mereka sangat tertarik pada media sosial hingga gaya hidup yang trendi. Efek dari hal ini adalah adanya jarak yang terbentuk antara teknologi dengan kehidupan masyarkat konvensional.

Kembali pada pendangan Stokes mengenai politik, dimana ada sebuah alokasi sumber daya yang diperebutkan dalam konteks ini. Sumber daya yang dimaksud adalah hasrat kita untuk kontribusi bagi perayaan kemerdekaan Indonesia. Mudahnya, sumber daya yang dimaksud adalah hal dapat menjadi kekuatan dari masyarakat dalam sebuah kehidupan, termasuk hasrat untuk kontribusi. Sedangkan alokasi adalah persiapan Karang Taruna dalam mewujudkan rencana tersebut. Mulai dari rapat persiapan, penyusunan anggaran acara yang akan dibentuk. Ditribusinya adalah peroses perubahan dari hal abstrak sebuah rencana menjadi sebuah produk konkret dari perayaan kemerdekaan.

Sebagai generasi yang disebut milenials—mungkin bisa disebut Z juga, entah, Penulis lahir di medio 1900-an—Penulis pun tidak mentutup mata bahwa ada masalah disini. Kesibukan memperkuat integritas, terjebak dalam kebutuhan akan gaya hidup dan kesadaran palsu—bahkan sudah tidak sadar, dalam hemat Penulis—atas sebuah kontribusi terhadap masyarakat. Dikatakan kesadaran palsu adalah terkadang kita aktif menyuarakan keluh kesah kita terhadap rezim berkuasa di media sosial, tapi kita lupa ada kontribusi terdekat yang perlu kita lakukan. Kita terlalu sibuk dengan permasalahan yang menurut kita adalah sebuah masalah tanpa refleksi masalah apa yang sebenarnya kita hadapi.

Semua ini, terjadi karena sudah terjadi perbedaan karakteristik pemudanya. Lihat karakteristik Generasi Y (millennials) dan Z diatas. Terlihat berbeda dengan Generasi Baby Boomers yang menjadi orang tua dari Generasi Y dan Z, apalagi dengan generasi yang lebih tua—yang merasakan penjajahan dan rezim otoriter Indonesia. Generasi sebelum Y dan Z yang kurang akrab dengan teknologi, menjadi lebih menghargai presensi dan keguyuban suatu masyarakat. Untuk itu, Karang Taruna kini menjadi berbeda, karena definisi guyub menurut mereka berbeda. Guyub yang berbasis teknologi. Dalam pengalaman Penulis di Karang Taruna setempat, orang-orangnya menjadi lebih sulit dikumpulkan, karena sudah sibuk dengan urusan masing-masing. Penulis paham bahwa kita bebas memilih kegiatan, namun, bukankah kita hidup di dunia ini tidak sendiri? Sebagai seorang pemuda, Penulis akan memulai aktivitas politik dari tingkat yang terbawah. Tidak jarang kegiatan perayaan kemerdekaan di isi oleh golongan tua. Sebagai pemuda harusnya kita malu dan tergerak untuk berubah. Belum terlambat bagi setiap diri kita baik pemuda untuk terus berkontribusi dan berpolitik, membentuk diri menjadi masyarkat modern.

Penulis juga paham betul bahwa kondisi yang terjadi saat ini tidak mudah. Membentuk paradigma alternatif dibawah sebuah narasi besar mengenai definisi politik. Bagi Penulis, perkembangan Ilmu Politik akan terjadi, ketika pandangan alternatif mulai digunakan. Politik tidak hanya terjadi di singgasana pemimpin dan wakil rakyat, akan tetapi, juga ada dalam sekat-sekat perumahan warga negara Indoensia. Terakhir: Ayo, pemuda, tunjukan juga kehebatanmu untuk lingkungan terdekat!


Sumber:

Stokes, Susan, Thad Dunning, Marcelo Nazareno, and Valeria Brusco. 2013. Brokers, Voters, and, Clientelism: The Puzzle of Distributive Politics. New York: Cambridge University Press.

Adam, Aulia. (2017). Selamat Tinggal Generasi Millenial, Selamat Datang Generasi Z, https://tirto.id/selamat-tinggal-generasi-milenial-selamat-datang-generasi-z-cnzX diakses pada 15 Agustus 2017.

Lyons, Kate. (2016). Generation Y, Curling or Maybe: What The World Calls Millennials, https://www.theguardian.com/world/2016/mar/08/generation-y-curling-or-maybe-what-the-world-calls-millennials diakses pada 15 Agustus 2017